1. Latar belakang
Tak mungkin melihat sejarah pembentukan negara-negara yang ada sekarang dengan meniadakan peran Perang Dunia I. Fase tersebut merupakan titik penting penghancuran dan pembentukan ulang batas-batas negara yang lahir dari kebijakan imperialisme yang berlangsung sejak dua dasawarsa terakhir abad XIX. Schuman (1953:91), menyebut stereotip lama para negarawan semisal national interest dan national honor sebagai penyebab, melabeli PD I sebagai ancient game of power. Politik ekspansi yang maujud dalam imperialisme akibat mandeknya modal dan distribusi tenaga kerja dalam negeri, ditambah dengan sentimen nasionalisme ditenggarai jadi penyebab lainnya (Arendt, 1995:48-68)
Perang bermula dari Sarajevo, Ibukota Bosnia – ketika itu masih di bawah kekuasaan aliansi Austria-Hongaria – putra mahkota Hapsburg Francis Ferdinand dan istrinya dibunuh oleh pendukung gerakan pan-Serbia pada 28 Juni 1914. Segera setelah itu Austria mengumumkan perang terhadap Serbia yang berbatasan secara langsung dengan mereka di selatan. Jerman, yang terletak persis di utara wilayah kekuasaan Austria-Hongaria, menyatakan dukungan militernya terhadap Austria. Sementara itu, Prancis dan Rusia (masih dalam kekuasaan Tsar Nicholas II), memilih berada di pihak Serbia karena takut kehilangan pengaruhnya di Balkan.
Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Woodrow Wilson, memilih ikut ambil bagian dalam PD I pada 1917. Perimbangan kekuatan dan ekspor senjata ke pihak aliansi (Austria, Hongaria, dan Prancis) yang menguntungkan dari segi komersial menjadi dasar kebijakan. Pemerintah AS memrotes hak Jerman memerdagangkan senjata ke kedua belah pihak yang bertikai. Menggelikan, setahun sebelumnya Wilson berhasil memenangi pemilu dengan slogan peace without victory.
Wilson tak sekedar memainkan strategi tempur di medan perang. Lebih penting dari itu, dia harus memengaruhi opini dan menggerakkan rakyat AS yang pasifistik dan tidak melihat adanya alasan rasional untuk ikut ambil bagian dalam PD I. Salah satu usaha yang dilakukan adalah membentuk gambaran yang salah mengenai tentara Jerman.
…themselves, were able to drive a reluctant population into a war by terrifying them and eliciting jingoist fanaticism. The means that were used were extensive. For example, there was a good deal of fabrication of atrocities by the Huns, Belgian babies with their arms torn off, all sorts of awful things that you still read in history books. Much of it was invented by the British propaganda ministry, whose own commitment at the time, as they put it in their secret deliberations, was “to direct the thought of most of the world.” But more crucially they wanted to control the thought of the more intelligent members of the community in the United States, who would then disseminate the propaganda that they were concocting and convert the pacifistic country to wartime hysteria. (Chomsky, 1997:9-10)
Contoh di atas hanyalah salah satu bentuk strategi perang urat syaraf (psychological warfare) yang dijalankan pemerintah Amerika Serikat. Segera setelah memutuskan keikutsertaannya dalam PD I, Woodrow Wilson mendirikan Creel Commission, sebuah lembaga yang kerap disebut sebagai pelopor propaganda modern. George Creel, sang pemimpin lembaga, bertugas merencanakan dan melakukan propaganda di dalam dan luar negeri untuk kepentingan perang yang sedang dilakukan Amerika.
Keberhasilan yang diraih Creel Commission merupakan hasil perpaduan antara pengetahuan tekhnik komunikasi dan psikologi massa. Tak heran ketika banyak ilmuwan sosial ikut di dalamnya, sebut saja teoretikus awal komunikasi Amerika Harold Laswell, Paul Lazarsfeld, dan Carl Hovland, serta jurnalis cum politikus Walter Lippman.
Dalam tulisan ini, kontribusi Walter Lippman akan diangkat secara khusus. Beberapa pertimbangan mendasari pemilihan ini. Pertama, sosok Lippman sebagai seorang teoretikus sekaligus politikus, mencerminkan kesatuan antara teori dan tindakan. Terkait hal itu, bahasan Lippman tidak terbatas pada masalah tekhnik komunikasi, tapi juga meluas pada struktur politik yang merupakan konteks komunikasi. Kedua, ketersediaan sumber. Magnum opus Lippman yang merupakan saripati pengalamannya ketika terlibat dalam PD I sudah dialihbahasakan ke Indonesia, dijuduli Opini Umum.
Bahasan akan dibagi dalam beberapa bagian. Bagian pertama menjelaskan mengenai latar belakang kelahiran teori, seperti sudah dipaparkan sebelumnya. Selanjutnya, biografi singkat Lippman akan disampaikan untuk melihat latar belakang pencetus teori Opini Umum.
Pemikiran-pemikiran, berbagai asumsi, dan teori, akan dibahas di bagian selanjutnya. Untuk memermudah, saya membaginya berdasarkan kategori filsafat ilmu. Bagian kedua akan diisi dengan ontologi dan epsitemologi teori opini umum. Sebagai peletak dasar teori komunikasi modern, Lippman punya pandangan berbeda dengan para teoretikus komunikasi di masa sesudahnya, bahkan dengan para teoretikus sezaman. Hal ini pulalah yang kemudian menyebabkan perpecahan dengan rekan intelektualnya Herbert Mercuse. Lippman sendiri tidak pernah menamai teorinya. Saya menamainya teori Opini Umum sesuai dengan judul buku Lippman Opini Umum yang banyak dirujuk di bagian ini.
Bagian ketiga akan membahas aksiologi teori opini umum. Lippman bukanlah akademisi murni, dia memraktikkan teori-teorinya dalam kenyataan, khususnya untuk kepentingan pemerintah Amerika Serikat. Di bagian ini, akan dijelaskan bagaimana keterkaitan antara teori yang dibangun Lippman dengan tindakan yang mewujud dalam penerapan demokrasi a la Lippman.
2. Walter Lippman: Wartawan Serba Bisa
Noam Chomsky, pakar lingustik sekaligus pemerhati media asal Massachausetts Institute of Technology (MIT) Amerika, membuka bukunya Media Control: The Spectacular Achievement of Propaganda, dengan sebuah pertanyaan: The role of the media in contemporary politics forces us to ask what kind of a world and what kind of a society we want to live in, and in particular in what sense of democracy do we want this to be a democratic society? Mencoba menjawab pertanyaan ini, dia mundur ke belakang. Mencari akar-akar pemikiran demokrasi. Salah seorang yang ditudingnya banyak memengaruhi model demokrasi Amerika Serikat adalah Walter Lippman.
Lippman sejatinya adalah seorang wartawan politik kenamaan asal Amerika. Lahir tahun 1889, 85 tahun umurnya banyak diisi dengan menulis untuk The New Republic dan The World, surat kabar yang terbit empat kali seminggu. Lippman juga menulis lebih dari 20 buku. Semasa berkuliah di Harvard nama-nama besar menempa kemampuan intelektualnya, mulai dari George Santayana hingga Graham Wallas. Wallas kemudian banyak memengaruhi pemikiran politik Lippman.
Di awal hidupnya, Lippman seorang penganut sosialisme Fabian. Belakangan dia menjadi seorang konservatif, bahkan cenderung skeptis terhadap politik. Kebanyakan mencatat nama baiknya dalam sepak terjang politik Amerika. Dia membantu Woodrow Wilson merancang the Fourteen Points, juga membuat pidato untuk beberapa politisi (Curtis, 1998:xvii). Kedekatannya dengan para politikus kenamaan Amerika Serikat serta kemampuan intelektual yang baik, membuatnya mampu memengaruhi berbagai kebijakan pemerintah.
Sisi lain tak banyak dicatat. Dia menghindari wajib militer dengan melapor ke sekertariat menteri pertahanan Amerika Serikat, berbohong bahwa ayahnya sedang sekarat dan ibunya hidup sebatang kara di dunia (Curtis, 1998:xvii). Namun, Lippman tetap aktif dalam peperangan, meski dari belakang layar. Dia bekerja sebagai penulis leaflet dan editor untuk unit propaganda yang bekerja di bawah American Expeditionary Forces. Selain itu, dia juga menduduki posisi sekertaris The Inquiry, dinas intelejen Amerika Serikat yang dibentuk presiden Wilson untuk mendukung tim negosiasi di Paris.
3. Opini Umum: Apa dan Bagaimana?
O
pini Umum, merupakan saripati pengalaman Lippman semasa bekerja di belakang layar saat PD I meletus. Simaklah buku tersebut, maka akan banyak kita temukan kasus-kasus yang menggambarkan dapur pembuatan kebijakan-kebijakan propaganda selama PD I. Tekhnik memanipulasi berita melalui pemilihan kata-kata ataupun pemelintiran fakta banyak digunakan untuk meyakinkan masyarakat bahwa perang harus dilanjutkan karena kemenangan sudah di depan mata. Cara itu juga terbukti ampuh untuk mengendurkan semangat tempur lawan.
a. Ontologis: Lingkungan Palsu dan Lingkungan Nyata
Pembedaan antara lingkungan palsu dan lingkungan nyata merupakan fondasi awal teori opini umum. Lingkungan palsu merupakan gambaran yang dibentuk masyarakat awam dan menuntunnya dalam bertindak. Gambaran tersebut terbentuk berdasarkan terpaan informasi dan latar belakang orang tersebut yang dipengaruhi oleh berbagai hal semisal lingkungan dan posisi sosial. Lingkungan nyata adalah kejadian yang betul-betul terjadi, kenyataan yang belum terdistorsi oleh karakter-karakter orang yang berbeda. Lingkungan nyata merupakan referensi seseorang dalam membentuk lingkungan palsu.
Sekilas, pandangan Lippman mirip dengan teori idenya Plato. Dalam beberapa hal, keduanya memang memiliki kemiripan pemikiran yang akan dibahas pada bagian selanjutnya. Fondasi pemikiran Lippman dan Plato memiliki kesamaan, meski dengan penamaan yang berbeda. Plato memisahkan antara pengetahuan dan opini[1]. Pengetahuan, yang berada di dunia ide, tidak mungkin salah. Hanya satu karakter saja yang dimiliki pengetahuan, sebab dia tidak mengalami perubahan. Sebaliknya, opini, yang didapat melalui pencerapan panca indera memunyai dua karakter yang bertentangan dalam dirinya karena memerantarai yang tidak berubah (pengetahuan) dan berubah (manusia). Sesuatu yang indah, jika dilihat dari segi lain bisa menjadi buruk maka bisa salah. Pengetahuan sama dengan lingkungan nyata, dan opini sama dengan lingkungan palsu.
Pembedaan dua jenis lingkungan menuntun pada dikotomi opini umum dan Opini Umum, dengan huruf kecil dan huruf besar. Yang pertama salah dan yang kedua benar. Kategori keduanya secara sederhana dipisahkan tindakan.
Gambaran-gambaran dunia di luar kita itu berhubungan dengan tingkah laku sesama, sejauh tingkah laku mereka itu menyangkut, tergantung, atau menarik perhatian kita, secara kasar kita sebut urusan umum. Sedangkan gambaran-gambaran dalam benak kita tentang diri kita sendiri dan orang lain tentang diri mereka sendiri dan diri kita, keperluan-keperluannya, maksudnya, dan hubungan dengan masyarakat luas kita sebut opini umum mereka. Gambar-gambar yang digerakkan oleh sekelompok orang, atau oleh pribadi yang bertindak atas nama kelompok adalah Opini Umum dengan huruf besar (Lippman, 1995:26)
Urusan umum pasti menyangkut opini umum. Namun, urusan pribadi hanya menjadi urusan umum ketika menyangkut urusan pribadi sesama. Seorang anak yang kecanduan narkoba adalah urusan pribadi. Namun ketika si anak memengaruhi anak dari keluarga lain untuk ikut menggunakan narkoba, atau membuat keributan dalam masyarakat saat di bawah pengaruh narkoba, maka hal tersebut sudah menjadi urusan umum. Dalam kondisi seperti itu, digerakkan oleh Opini Umum, seorang ketua Rukun Tetangga (RT), atau seorang polisi, atau bahkan sebuah organisasi kemasyarakatan bisa mengambil tindakan tehadap anak itu atas nama ketertiban umum (kelompok).
Ketidakmampuan untuk membentuk gambaran sebenarnya yang menuntun ke tindakan yang benar, menurut Lippman disebabkan oleh
Sebab lingkungan nyata itu sungguh terlalu besar, terlalu kompleks, dan berlalu terlalu cepat sebelum sempat dikenali secara mendalam. Kita tidak dilengkapi cukup alat untuk menghadapi begitu banyak kepelikan, keberagaman, dan perubahan susunan dan kombinasi. Dan walaupun kita harus bertindak dalam lingkungan itu, kita harus mengkonstruksinya menjadi model yang lebih sederhana (Lippman, 1995:15)
b. Epistemologis: Hambatan ke Lingkungan Nyata
Meski Plato dan Lippman memiliki kemiripan ontologis, namun secara epistemologis keduanya agak berbeda. Teori ide Plato menghasilkan cara pencarian kepada pengetahuan (lingkungan nyata) yang tidak berubah, sedangkan Lippman justru berusaha untuk menjelaskan opini (lingkungan palsu). Dia mencoba menjelaskan pergumulan antara yang tak berubah dalam nilai-nilai bawaan manusia (kodrat) dan yang berubah karena pengaruh lingkungan, dua hal pembentuk lingkungan palsu. Baginya, tidak ada gunanya menjelaskan yang tidak berubah, lebih baik menjelaskan reaksi masyarakat atas yang tak berubah tersebut.
Maka, para analis opini umum harus mulai dengan pengenalan hubungan segitiga antara: tempat kejadian, gambaran manusia tentang tempat itu, dan tanggapan manusia atas bayangannya itu sendiri yang terlepas dari fakta tempat kejadian (Lippman,1995:)
Banyak faktor yang membuat masyarakat awam cenderung membentuk lingkungan palsu. Faktor pertama adalah sensor. Sensor merupakan hasil dari penarikan garis pembatas antara hal-hal yang sifatnya publik dan privat, namun garis ini sifatnya elastis sekali kecuali pada momen-momen khusus semisal perang. Sensor sangat penting dilakukan dalam momen ini, sebab “publikasi seringkali tidak sejalan dengan kepentingan umum” (Lippman, 1995:39). Lippman tidak begitu jelas mendefinisikan dan memberi batas yang jelas antara kepentingan umum dan kepentingan pribadi – yang merupakan turunan dari pembedaan yang publik dan yang privat. Dia menganggap bahwa kepentingan-kepentingan pribadi yang beragam menghasilkan opini yang beragam pula. Untuk menjelaskan hubungan antara kepentngan umum dan kepentingan publik, diambillah analogi hubungan antara cerita dan penonton. Respon penonton terhadap sebuah cerita bisa berbeda dikarenakan kemajemukan karakter penonton, namun ceritanya tetaplah satu.
Ia tidak menganggap masalah pribadinya sebagai contoh-contoh parsial dari lingkungan yang lebih besar. Ia menganggap ceritanya tentang lingkungan yang lebih besar sebagai pembesaran dan peniruan kehidupan pribadinya. Ajaran tentang kepentingan diri sendiri pada umumnya menghilangkan sama sekali fungsi kognitif. Ajaran ini begitu konsisten pada fakta, bahwa manusia pada akhirnya merujuk semua hal kepada dirinya sendiri. Jadi, barangkali benar apa yang dikatakan James Madison … bahwa kepentingan akan tanah, kepentingan akan manufaktur, kepentingan perdagangan, kepentingan menjadi oarng kaya, dan banyak lagi kepentingan yang lebih kecil, tumbuh menjadi keharusan bagi bangsa-bangsa yang beradab (Lippman, 1995:164-173)
Kontak dan kesempatan merupakan hal kedua yang membuat masyarakat awam cenderung membentuk lingkungan palsu. Tidak semua lapisan masyarakat punya akses menuju lingkungan nyata. Tingkat ekonomi sangat menentukan aksesibilitas seseorang, sebab uang mampu menghilangkan rintangan komunikasi yang merintanginya. Seseorang yang hanya memunyai televisi akan punya pendapat berbeda dengan dia yang memunyai televisi dan juga membaca koran. Semakin banyak informasi, semakin banyak pilihan, semakin kecil gambaran lingkungan palsu yang dibuat. Tentunya akan berbeda pula dengan orang yang membaca koran, menonton televisi, tapi juga mampu mengakses internet.
Namun, ada hal lain yang juga penting pengaruhnya dalam kontak masyarakat awam dengan dunia luar. Seseorang yang terikat dalam sebuah kelompok sosial biasanya memiliki norma-norma yang sama dengan anggota kelompok sosial lainnya, sehingga gambaran lingkungan palsunya banyak terpengaruh oleh norma-norma tersebut. Pandangan ini serupa dengan teori two step flow of communication[2]. Kepercayaan Lippman akan teori ini mungkin disebabkan kedekatannya dengan Paul Lazarsfeld, teoretisi komunikasi yang juga aktif dalam pusat penelitian komunikasi pasca PD I[3].
Waktu masyarakat untuk mengenali dunia luar juga tidak begitu banyak. Lippman membandingkan tiga hasil penelitian mengenai kebiasaan membaca masyarakat, masing-masing dilakukan pada 1900, 1916, dam 1920 mengenai hal ini. Meski surat kabar sudah memberi ruang lebih banyak bagi berita yang berkaitan dengan urusan umum, tapi rata-rata orang hanya memakai sekitar 15 menit untuk membaca (Lippman,1998:56).
Waktu yang sempit diperparah dengan ketidakmampuan kata-kata untuk menangkap lingkungan nyata. Besarnya kuantitas dan perbedaan kualitas pembaca surat kabar, membuat wartawan kesulitan memilih dan merangkai kalimat yang tepat agar bisa dimengerti oleh setiap pembaca, sekaligus juga mengambarkan lingkungan nyata setepat-tepatnya.
Biasanya, disebabkan oleh kompleksnya lingkungan nyata, masyarakat cenderung menyederhanakannya melalui stereotip. Setiap orang atau sekelompok orang (kelompok sosial) punya stereotip-stereotip yang membantunya mendekati bentuk gambaran dunia yang mereka inginkan. Misalnya stereotip pelit yang dilekatkan pada orang Padang, membantu orang yang menganut stereotip tersebut agar tidak menjalin hubungan ekonomi dengan orang Padang. Stereotip juga menyediakan sistem pertahanan diri bagi masyarakat, maka dalam sebuah sistem stereotip yang kuat, kita cenderung mengajukan fakta yang mendukung stereotip, dan menyingkirkan hal-hal yang melemahkannya. Stereotip membuat kita merasa aman, setidaknya dia menyediakan alasan yang menjadi sumber tindakan kita. Apa jadinya manusia jika bertindak tanpa tahu alasannya?
Buku Opini Umum merupakan sebuah karya lintas disiplin. Sebagai sarjana ilmu politik, dia mencoba tidak menjadikan latar akademisnya sebagai kacamata kuda. Rumusan Lippman mengenai faktor-faktor pembentuk lingkungan palsu banyak dipengaruhi oleh ilmu psikologi. Jung dan Freud kerap dikutip dalam buku ini. Penelitian-penelitian yang digunakan Lippman untuk mengetahui kuantitas waktu membaca, semuanya merupakan penelitian psikologi, khususnya psikologi massa.
3. Aksiologis: Untuk Apa Opini Umum?
Walter Lippman bukan intelektual yang terisolasi di gedung Universitas atau perpustakaan kota, bukan juga wartawan yang kesehariannya mencari dan melaporkan kejadian. Lebih dari itu, dia merupakan seorang yang memraktikkan kesatuan antara aksi dan teori. Pemikiran-pemikiran Lippman tidak terhenti dalam buku-buku atau surat kabar dan habis dimakan rayap. Lippman dikenal sebagai seorang yang punya kemampuan intelektual di atas rata-rata dan dekat dengan banyak politikus nomor wahid Amerika Serikat. Buku Opini Umum bukan sekedar magnum opus-nya, tapi juga landasan banyak kebijakan pemerintah Amerika Serikat ketika itu.
a. Masyarakat yang Tetap
Satu lagi kemiripan Lippman dan Plato adalah aksiologis pemikiran mereka berdua. Jika Plato menelurkan teori ide yang menuntun pada pembagian hirarki masyarakat dalam teori negaranya[4], maka Lippman membuat teori opini umum untuk menunjukkan bahwa ada bagian besar masyarakat yang cenderung salah kaprah dalam menafsirkan kejadian-kejadian di dunia. Mereka, masyarakat awam, disebut sebagai gerombolan massa yang kebingungan (bewildered herd), karenanya harus dihindarkan dari membuat keputusan-keputusan umum yang penting. Tugas seperti itu sebaiknya diserahkan kepada segolongan kecil orang yang menjadi perwakilan di parlemen.
Mengapa hanya sebagian kecil masyarakat saja yang dibolehkan mengambil keputusan-keputusan umum yang sifatnya penting? Sebab, mereka merupakan bagian masyarakat yang memunyai kemampuan lebih dibandingkan kebanyakan masyarakat. Kemampuannya mengetahui lingkungan nyata tersebut, membuat mereka mampu mengerti dan merencanakan tugas-tugas terkait kepentingan umum.
Now there are two “functions” in a democracy: The specialized class, the responsible men, carry out the executive function, which means they do the thinking and planning and understand the common interests. Then, there is the bewildered herd, and they have a function in democracy too. Their function in a democracy, he said, is to be “spectators,” not participants in action. But they have more of a function than that, because it’s a democracy. Occasionally they are allowed to lend their weight to one or another member of the specialized class. That’s called an election. It’s also a typical Leninist view. In fact, it has very close resemblance to the Leninist conception that a vanguard of revolutionary intellectuals take state power, using popular revolutions as the force that brings them to state power, and then drive the stupid masses toward a future that they’re too dumb and incompetent to envision for themselves. The liberal democratic theory and Marxism-Leninism are very close in their common ideological assumptions. (Chomsky,1997:13-14)
Agak menggelikan memang, Lippman yang anti Marxisme-Leninisme[5] justru menerapkan asumsi yang serupa dalam teorinya. Pasca Perang Dunia, tepatnya ketika terjadi perang dingin antara AS dan Uni Soviet, dia banyak membantu propaganda pemerintah AS dalam menyebarkan ketakutan akan kaum merah (red scare) (Simpson,1994:63-93).
Kemiripan tersebut yang mungkin menyebabkan Lippman ogah membahas mengenai struktur masyarakat. Buat dia, hal tersebut berada di luar jangkauan kita, sesuatu yang sudah begitu sejak dulunya. Selain itu, kita tidak mungkin mengetahui tingkah laku manusia sebagai reaksi atas masyarakat makro. Yang bisa kita ketahui reaksi manusia terhadap bagian-bagian kecil dalam hidupnya, yang tak sebanding dengan gambaran masyarakat secara keseluruhan (Lippman,1998:22-23). Pandangan tersebut sejalan dengan konsepsinya mengenai manusia yang egosentris dalam masyarakat demokratis. Penyebab Lippman berpikir seperti itu mungkin kondisi zamannya yang memang tidak memungkinkan tingkah laku manusia sebagai reaksi atas masyarakat makro. Sebetulnya, Lippman sempat menyaksikan hal ini. Tahun-tahun menjelang akhir hayatnya pada 1974, banyak diisi dengan gerakan-gerakan mendunia yang merupakan reaksi atas masyarakat makro, misalnya saja gerakan anti perang di AS yang memuncak di dekade 70-an dan Student May Revolt di Prancis pada 1968.
b. Fungsi Media Massa
Lalu, apa fungsi teori Opini Umum dalam bentuk masyarakat Demokratis versi Lippman? Salah satu fungsinya adalah menjaga kestabilan pemerintahan dengan membiarkan struktur yang sudah ada tetap berjalan sebagaimana mestinya. Meski tak pernah mengaku terang-terangan, Lippman banyak menganut ide-ide fungsionalisme. Aliran antropologi ini berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1950-an melalui Talcott Parsons. Fungsionalime menganggap masyarakat layaknya tubuh manusia yang memunyai mekanismenya sendiri. Bagian-bagian tubuh tersebut saling mendukung satu sama lain, namun bekerja berdasarkan fungsinya masing-masing. Kaki tidak bisa menjadi kepala, begitupun sebaliknya. Bagian-bagian akhir Opini Umum yang menjelaskan tentang masyarakat demokratis sehubungan dengan opini umum, ditulis dengan gaya berpikir seperti itu. Tiap-tiap bagian masyarakat punya fungsi masing-masing, dan tidak boleh melenceng dari fungsi tersebut, sebab bisa menimbulkan goncangan.
Fungsionalisme juga punya pengauh dalam studi media massa. Menurut aliran ini, media massa memainkan fungsi sosial positif dengan mereproduksi seperangkat kepercayaan dan ideologi yang merupakan anutan bersama (Couldry,2004:3). Pandangan ini sejalan dengan pendapat Lippman mengenai fungsi media massa. Menurutnya, media massa bukanlah ruang public tempat pertemuan berbagai gagasan, melainkan sarana penyampaian pandangan pemerintah dan industri. Penting bagimya, untuk menyediakan pers berita, bukannya membiarkan mereka mencari berita.
Kesimpulan saya ialah bahwa opini umum harus diberikan kepada pers jika ingin sehat, tidak oleh pers seperti halnya sekarang. Tugas memberikan informasi opini umum tersebut saya pahami pertama-tama sebagai tugas ilmu politik yang menduduki tempatnya sebagai perumus, pendahulu keputusan nyata, bukannya pembela, kritikus, atau reporter sesudah keputusan diambil. Saya melihat tanda-tanda bahwa pemerintah maupun industri telah memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengabdi kepada kepentingan umum (Lippman,1995:28)
Dalam pandangan di atas, jelas bahwa perspektif komunikasi yang digunakan adalah perspektif satu arah. Komunikasi bukan merupakan sebuah proses negosiasi gagasan melalui simbol-simbol, melainkan proses penyamaan persepsi komunikan oleh komunikator. Komunikasi dipandang sebagai sarana mendominasi. Pandangan ini sejalan dengan rekannya yang juga punya andil dalam kebijakan propaganda pemerintah AS semasa Perang Dunia I Harold Laswell. The Magic Bullet Theory, yang diciptakannya punya asumsi yang sama. Komunikan dipandang sebagai objek pasif yang menerima semua pesan komunikasi.
[1] Lihat Russel, 2004:164
[2] Several researcher designed a study to examine how how individuals from different social groups select and use mass communication messages to influence votes. They were surprised to discover that informal, personal contacts were mentioned far more frequently than exposure to radio or newspaper as potential source of influence on voting behavior (Infante, Rancer, and Womack, 1990:394-397)
[3] At least six of the most important U.S. centers of postwar communication studies grew up as de facto adjuncts of government psychological warfare programs. For years, government money made up more than 75 percents of the annual budgets of Paul Lazarsfeld’s Bureau of Applied Social Research at Columbia University, Hadley Cantril’s Institute for International Social Research at Princeton, Ithiel de Sola Pool’s Center for International Social Studies program at Massachausetts Institute of Technology, and similar institutions (Simpson,1994:4)
[4] Lihat Russel,2004:146-162
[5] Sikap ini dengan mudah bisa ditemukan dalam buku Opini Umum. Lipmann, meskipun mengakui bahwa stereotip cenderung membuat bias pandangan seseorang (Lippman,1998:99), namun kerapkali justru bersikap bias terhadap Marxisme-Leninisme (Lippman,1998:105-107, 176). Lucunya, dalam Opini Umum, tak ada satupun karya asli Marx yang dijadikan sumber rujukan atas pendapat-pendapatnya itu.

