Seharian kemarin Jogja diguyur hujan. Main Playstation atau baca buku-buku menarik yang kebetulan saya temukan di rak buku adik perempuan. Ada Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Banyak orang membicarakan kehebatannya. Wilson bikin Dunia di Balik Jeruji. Isinya surat-suratan dengan Max Lane atau curhat kondisi penjara. Saya baca sekilas. Pun kumpulan esai tentang transisi demokrasi pasca-Soeharto. Nama Vedi R. Hadiz bikin saya tertarik. Ada juga kutipan jurnalisme damai yang ditulis Mas Hary.
Cuma ingin istirahat saja, di Jogja. Sedang jemu, yang kata Camus “akhir dari rentetan tindakan hidup bagai mesin”. Berangkat ambil bus termurah. Hasilnya perjalanan 18 jam Bogor-Jogja. Biasanya cuma 10 sampai 12 jam saja.
Sore tadi, seperti biasa, langit dikuasai awan kelabu. Saya coba yakinkan kakak sepupu kalau pantai jarang hujan, setahu saya begitu. Agak berjudi sebetulnya kami pilih mobil bak terbuka yang dipakai menuju Parang Tritis. Di depan dua orang, Endi pegang kemudi. Kakak sepupu tertidur karena embus angin dari kaca mobil yang dibiarkan terbuka.
Kami bertiga, di belakang. Andi, Sam, dan Saya, didera angin kencang. Beralas tikar butut, ngobrol sambil berbagi sigaret.
Andi suka fotografi. Kami sering berbagi. Saya kasih dia beberapa teknik dasar kamera digital. Gantinya, dia traktir saya makan, kopi, atau sigaret. Kami berdua paling ngotot mau pergi ke Parang Tritis. Foto-foto dengan latar sunset.
Waktu mobil melintas pintu masuk, Endi pelankan gas. “Mau anter tukang banggunan ke panggang,” dia berdusta dan kami tidak harus bayar tiket masuk. Panggang letaknya dua jam perjalanan dari kota Jogja. Parang Tritis salah satu jalur yang biasa dilewati. Karena daerah yang kering pertanian susah berkembang. Airnya banyak mengandung kapur. Kalau dimasak endapan kapur bakal terlihat. Masyarakatnya banyak merantau. Jadi pembantu rumah tangga atau kuli banggunan.
Tak pernah bosan lihat sunset. Waktu SIM motor saya belum hilang, kalau sedang di jogja hampir tiap hari saya kejar dia di Parang Tritis. Berangkat habis Ashar, pulang selepas Magrib. Cuma duduk-duduk saja di pesisir. Belum tahu fotografi ketika itu.
Atau bikin puisi. Sekali waktu pernah saya gubah bait ke bait sambil lihat sunset. Dua tahun lalu, 28 Januari, sedang dekat dengan seorang perempuan. Puisi itu buat dia. Pengakuan kekalahan. Dia menunggu, tapi saya tak pernah tanya kesediannya jadi pacar saya. Tak berani.
Kami masih berhubungan sampai sekarang, bahkan sering ketemu. Tetap masih kalah. Sekarang saya cuma mau senang-senang saja. Sepertinya mau dia juga begitu.
Waktu kejar sunset di Anyer tahun lalu saya kirimi dia sms. Lengkapnya lupa, tapi ada kalimat “always remember u in a place like this.” Dia balas “miss u too”.
Hari ini sunset tertutup mendung. Waktu pulang gerimis turun. Saya cuma berlindung di balik tutup kepala jaket. Wajah disusuri cucur air. Saya ingat dia, rindu cericit riangnya..
Jogja, 3 Februari 2008

& Komentar
Februari 3, 2008 pukul 12:00 pm
“kejemuan adalah akhir dari rangkaian tindakan hidup bagai mesin”.. ya al?.. ya ya ya..
btw.. what a life u’ve got there! kadang gw mikir, some people-really–do–have a chance to make a choice–where they gonna go, or they wanna be at..
gw mau ke pantai, gw ke pantai… gw mau pergi ke luar kota ngegembel ya gw ngegembel.. gw mau ke gunung ya ke gunung…
ini tulisan di pukat sophia dokumen probadi gw:
9 september 11:08
hmmm..1000 tempat yang ingin saya singgahi tapi menjadi sulit dan rumit… apadaya,, ketika kaki hanya bisa menapaki arah yang telah ditentukan dan dibolehkan.. serta waktu menjadi sebuah kata yang sarat akan pacuan, pembatas, penghambat, dan pemicu adrenalin..semuanya menjadi tampak melelahkan..
—-
yah sudahlah..mengeluh tiada guna..
btw lagi al, mau tanya.. yg 2 taun lalu di anyer sapa tuuu?jangan2 anak jurnal hahahahaha
Februari 5, 2008 pukul 5:51 pm
anak jurnal Universits Negeri Papua…hahaha. Ngapain juga disms kalo anak jurnal, tinggal ngomong empat mata ajah
Februari 15, 2008 pukul 5:56 am
al, foto lu ganti. gak oke.hoho.. ^^
Maret 11, 2008 pukul 6:55 am
Waaahhh.. enaaakk ya di jogja Al… gw juga abis dari jogja.. lari dari lilitan benang kehidupan (bbeehhh)…
Btw, enak dong diguyur hujan… diguyur berkah tau Al.. hehehe..
kunjungin blog gw di http://www.callmeai.wordpress.com
thank you
April 4, 2008 pukul 7:49 am
Nggak sebagus tulisanmu Al…
Amorfati…amorfati… entah knapa kata-kata itu akhir-akhir ini terus terngiang di kepalaku.
April 4, 2008 pukul 1:42 pm
berarti sekarang dah bisa fotografi, dong? salam kenal ya.