Desember 21, 2008...8:05 am

Dialah Sang Imam Mahdi

Lompat ke Komentar

Saya punya impian. Bertemu pria paruh baya berkacamata dengan kepala yang mulai dirayapi kebotakan. Kemarin hari,suara mantapnya sergap saya. Dari Televisi saya tahu Mario Teguh dia punya nama.

Apa yang buat dia spesial? Banyak jawabannya. Bisa saya rentetkan poin demi poin. Tapi,beberapa yang cukup buat saya kagum, bertanya-tanya, dan ingin ketemu dia. Malam itu acaranya dijuduli “i just cant wait to be a king”. Sungguh menghibur. Jarang saya dibuat terpingkal oleh kotak idiot bernama televisi. Kebodohan kalau dibungkus dengan kulit yang tepat pun terlihat ibarat mukjizat.

“Dengarkan ini” begitu biasa Mario memulai petuahnya. Mengesankan kalau tiap kalimat yang keluar dari mulutnya serupa sabda.Maka camkan baik-baik. “Pertama,jadilah ikan kecil di kolam yang besar. Ambil pelajaran, kenali lingkungan, lalu pindah ke kolam kecil. Dengan pengalaman dari kolam besar Anda kembangkan kolam kecil jadi kolam besar. Begitu cara menjadi raja. Tidak bagus terus jadi ikan kecil di kolam yang besar. Sesukses atau sekaya apapun Anda tetaplah kacung, “kira-kira seperti itu ringkasan sabda Mario.

Tapi,dia ingatkan,”raja adalah pengemban amanat Tuhan. Raja yang baik adalah yang menyukseskan para abdinya”. Betapa mulia pesan beliau. Petuahnya malam itu kalau dipikir-pikir bisa jadi jalan tengah manusia-manusia pasar yang saling berkompetisi, tapi tetap membutuhkan kerjasama. Mario Teguh adalah nabi zaman modern!

Tapi, toh,para Nabi selalu punya pengikut yang membandel. Dan mereka yang tak mau dengar sabda berakhir jadi kutukan di kitab-kitab. Daur hidupny diakhiri azab. Mario seperti nabi malam itu.Siap memberi lampu terang di pojok lorong gelap buat para pengikutnya. Syaratnya, “saya suka orang yang selalu gelisah, dan datang dengan pertanyaan kepada saya” begitu ujarnya.

Bagaimana cara jadi raja tanpa punya kacung? Sebab menjadikan orang lain sebagai kacung, dalam logika Anda, sama dengan menghambat orang lain.

Bagaimana cara jadi raja yang menyukseskan kacungnya,bukankah seharusnya kacung menyukseskan raja? Setahu saya tak ada kawula yang lebih luas dikenal dibanding rajanya

Kalau Anda bisa beri saya jawaban meyakinkan buat dua pertanyaan di atas,saya ikut perahu Anda, pak Mario…

& Komentar

  • Sejatinya setiap manusia adalah Raja, setidaknya bagi dirinya sendiri, namun perjalanan manusia mengharuskan ‘Kerajaan’-nya menjadi bagian dari ‘Kerajaan’ yang lain, yang membuat ia (seolah-olah) menjadi abdi, budak, atau kacung bagi kerajaan tersebut.

    Seseorang ‘dijadikan’ Raja / pemimpin dikarenakan ia dianggap (terlepas dari benar atau salahnya anggapan tersebut) mampu untuk membesarkan dan mensukseskan yang dipimpinnya. Sehingga ungkapan ”raja adalah pengemban amanat Tuhan. Raja yang baik adalah yang menyukseskan para abdinya” adalah benar adanya. Seorang raja, setelah ia mampu untuk memimpin dirinya sendiri, harus mampu memimpin para abdinya untuk meraih kesuksesan, kesuksesan masing-masing pribadi yang berada dalam kepemimpinannya akan menghasilkan kesuksesan kolektif, kesuksesan kolektif ini secara otomatis akan membesarkan nama sang raja, yang merupakan representasi individual dari yang dipimpinnya.

    Seorang raja yang baik tidak memperlakukan seseorang sebagai kacung, tetapi sebagai seorang manusia, yang masing-masing manusia memiliki jatah peran yang berbeda. Sang Raja akan menghargai derajat kemanusiaan para abdinya, memberikan haknya, serta berusaha untuk memberdayakan mereka (bukan memperdayakan), untuk kepentingan mereka dan untuk sesuatu yang disebut dengan kepentingan bersama.

    Kesuksesan tidak selalu berbanding lurus dengan ketenaran. Karena konsekuensi dari kepemimpinan adalah tanggung jawab, semakin besar tanggung jawabnya, semakin banyak orang berada dalam ranah tanggung jawabnya, semakin banyak yang mengenal, dan semakin tinggi pula tingkat popularitasnya.

    Begitulah kira-kira

    Salam

    -salah seorang al yang terserak di muka bumi-

    • dear almd 85
      pertama, trims buat komennya. Membuat saya berpikir ulang. Ada beberapa hal hasil pikir ulang tersebut.
      kedua, saya mau menyampaikan ketidaksetujuan..hehe. Menjadi Raja atas diri sendiri, buat saya ini seperti omomng kosong yang terlalu bersemangat. Dengan mudah Anda bisa temukan, orang-orang yang tidak bisa menjadi Raja atas dirinya sendiri. Mungkin jaraknya cuma dua langkah dari Anda, atau bahkan sedekat urat nadi, dirimu sendiri. Apakah seorang buruh pabrik menjadi Raja atas dirinya sendiri? tidak, seratus persen tidak. Anda tanya saja apa dia benar-benar ingin bekerja delapan jam sehari, terkadang lebih? Kalau bekerja memintal benang atau merakit elektronik benar-benar disukainya, itu berarti dia menjadi raja bagi dirinya, tapi oh tetapi. Ada demo dimana-mana. Kalau suka tidak begitu, bukan?
      Definisi raja yang anda berikan terlalu normatif. Idealnya memang begitu. Saya setuju. Seratus persen setuju. Tapi tak perlu jadi sarjana untuk melihat sebaliknya. Manusia bukan malaikat seperti diimpikan Dewi Lestari, begitu juga Raja. Raja yang baik hidup dalam mitos..hehe. Apakah ketika seorang rakyat kelaparan, sang Raja sempat memikirkannya? sebaliknya, ketika sang Raja terancam itu jadi masalah bersama, masalah rakyatnya.
      Betul, betul sekali sukses tidak berarti tenar. Tapi, oh tapi. Berapa banyak ‘raja’ yang berfungsi untuk menyejahterakan atau menyukseskan kawulanya? Konsekuensi dari kepemimpinan, selain tanggungjawab (yang sering disalahgunakan) adalah besarnya wewenang yang melebihi wewenang rakyat, begitu saya pikir.

      Salam, salah seorang kawula
      Kalau kata orang Sunda “abdi mah jalmi alit, sarung ode lalogor” (saya mah orang kecil, sarung juga pada kelonggaran)

  • Terima kasih kembali kang aal sudah mau membaca komentar saya yang mungkin ngelantur … kalau boleh saya menanggapi kembali,

    Raja yang baik hidup dalam mitos, mungkin benar, mungkin juga tidak, karena, ya, memang ada Raja yang memperhatikan rakyat yang kelaparan (memang tidak umum dan tidak banyak, sejauh ini hanya bisa menyebutkan beberapa). Seorang Raja memang bukan malaikat tetapi seorang manusia juga, oleh karena seorang Raja menjadi seorang Raja karena ada SISTEM yang menjadikannya seperti itu.

    Realita semacam ini, dimana terjadi ketidakadilan yang menyebabkan terjadi demo, dan berbagai macam bentuk lain dari ekspresi ketidakpuasan (bahkan ketertindasan), bisa jadi terkondisi karena SISTEM yang salah, atau mungkin SISTEM nya sudah benar namun oknum-oknum nya yang salah.

    Tentang masalah wewenang, dimanapun, ukuran dari sebuah wewenang tentunya berbanding lurus dengan tanggung jawab (yang secara alamiah seperti itu, dan secara alamiah pula harus berjalan secara bersamaan). Ya memang sedikit ‘raja’ yang berusaha menyejahterakan kawulanya. kalau boleh bicara tentang idealisme, raja yang sosialislah yang bisa menyejahterakan dan menyukseskan kawulanya. Atau setidaknya raja tersebut menyadari peran dan tanggung-jawabnya. Memang tidak banyak bahkan sedikit, tapi bukankah karena sedikit itu raja-raja semacam itu menjadi lebih istimewa

    Salam


Tinggalkan Balasan