sepakbola
Saya biasa main di lapangan semen. Ukurannya seluas lapangan badminton, karena memang sebetulnya itu lapang badminton. Para pemuda yang punya sedikit waktu senggang disela kesibukannya menikmati minuman keras dan nonton vcd porno kemudian merubahnya jadi lapangan serbaguna. Ada satu ring basket dan dua buah gawang dari bambu portabel yang bisa dicopot selepas kami bermain bola. Maklum saja, lapangan itu kalau malam jadi lahan parkir mobil.
Kalau bukan jadi penyerang, saya jadi pemain tengah. Badan saya terlalu rapuh jadi pemain belakang. Tapi itu juga bukan tanpa resiko. Sekali waktu kami main diguyur hujan, lapangan yang licin membuat saya terpeleset. Kepala beradu dengan lantai. Pingsan. Lain waktu saya coba bikin gol lewat tendangan voli. Bola masuk, tapi saya tak kuat merayakannya. Karena menahan badan yang terjatuh (lagi) akibat lantai licin, tulang tangan saya sedikit retak.
Lapangan itu diapit sebuah rumah dan sungai yang dalamnya selutut. Si empunya rumah, pegawai perusahaan pertambangan, jadi jarang di rumah. Kalau pulang, dia suka mengeluhkan tembok luar rumahnya yang penuh cap bola plastik. Tapi, kami tak pernah berhenti, kecuali karena langit yang mulai menghitam. Bahkan kaki yang melepuh karena gesekan dengan bola, atau lutut luka karena terjatuh, bukan halangan.
Jika tak mengenai tembok, si kulit bundar nyemplung ke kali. Yang menendang bertanggungjawab. Kadangkala arus begitu kuat selepas hujan membuat bola agak jauh terbawa. Sungai itu airnya coklat. Habis nyemplung kami sering gatal-gatal.
Beberapa kali bola ditendang mengenai pucuk tajam pagar rumah. Bola plastik mengempis. Kalau ditendang menjadi berat. Kami menghentikan permainan.
Teman-teman saya sudah tidak minum-minuman keras sekarang. Tidak juga bermain bola. Ada yang bekerja siang-malam urus mesin di pabrik. Ada yang urus anak sore hari selepas kerja. Kami jadi penonton saja. Bicara tentang transfer pemain yang nilainya jauh lebih besar dari gaji orang sekompleks perumahan. Atau tentang ribut-ribut PSSI. Adik-adik kami, lebih suka bermain bola dengan jari, jauh dari terik matahari. Lapangan itu lenggang sekarang.
Kami tak lagi meniru gaya perayaan gol Gabriel Omar Batistuta. Hei itu teman saya yang jangkung, kami menjulukinya Christian Abbiati, sudah jadi anak masjid. Rajin adzan dan mengaji. Kakaknya yang jago gocek sekarang berdagang pulsa.
Aih, kapan lagi kita main bola dengan kaki telanjang. Tertawa saat teman terjatuh. Berlari dan bikin serangan balik.
Posted on March 11, 2011, in Orang-orang Sekitaran. Bookmark the permalink. 1 Comment.
maneh main bola ripuh kitu? loba cidera