Januari 30, 2008

Siang itu, Kamu atau Aku yang Bingung?

Malam itu tak ada pilihan. Bumi Berantakan-nya Frantz Fanon buat kening berkerut. Tertatih mendaras kata per kata. Ada jeda beberapa kali. Jempol berulang memijit kening, naik-turun. Ada jeda sekali. Pesan masuk ke handphone, dikirim seorang teman. ”U know why do God makes spaces between our fingers Coz someday, some1 will sent 4 us 2 cover those empty spaces by holding our hands forever…”. Malam beri juga saya waktu buat tersenyum. 

Pening masih berkitar di kepala. Garis hitam menoreh kantung mata bagian bawah. Secangkir kopi dan sebatang sigaret saya bawa ke lantai atas. Ibu duluan di sana. Centang perenang kami ngobrol. Berbagi asbak, dikibari kepulan asap sigaret merek yang sama. Dia sedang kesal dengan adiknya. 

Agak terlambat saya baca pesan pertama hari itu. ”AbsoluTely kkks..tgl telf gw ajah..mw dmn? Jam brapa?” 23.01.2008, 07:32. +62817901xxxx. Jam sepuluh lewat beberapa menit. Angkat telepon sampai redial tiga kali. Tak ada respon.  

Ada janji yang harus ditepati. Hari ini, dengan beberapa teman kosan, saya akan liburan ke Jogja. Berangkat dari Jatinangor. 

Bus kota lenggang. Saya harus maklum. Sesiang ini sopir masih juga malas memacu gas. Sigh, baru beranjak 500 meter bus berhenti lagi. Dua pemuda naik, satu membawa gitar, mulai memetik. Temannya bernyanyi dengan suara yang tak bakal lolos kontes vokal paling amatir sekalipun. Malam ini kusendiri, tak ada yang menemani. Seperti malam-malam yang sudah-sudah (The Rock, Munajat Cinta) 

Lima menit sudah. Bus bergerak lamat. Dikejar seorang perempuan berkaus hitam. Kaki kananya menjejak kukuh di aspal. Hupp, kaki kirinya berayun. Coba memijak lantai bus. Tangan kiri meraih pegangan besi di pintu bus. Tubuh gempalnya berayun, menyesuaikan laju bus. Rambut panjangnya tertiup angin. Tak lama, dia duduk di kiri saya. Memangku ukulele kecoklatan penuh stiker, di paha. Kami berdua saja di jejer bangku paling belakang. 

Pengamen masuk lagu kedua, ganti lagu ketiga. Selesai hitung uang dalam gelas aqua, penyanyi turun. Gitaris tak turut. Duduk di pojokan, samping kiri si perempuan. Berdekatan. Rebah kepala si perempuan di bahu gitaris jalanan. Diembus semilir angin. Matanya menyipit, terus mengatup. Entah apa di kepalanya. Mungkin benak merdu bersenandung. Kuberikan padamu setangkai kembang pete. Tanda cinta abadi, namun kere.. Cinta kita cinta jalanan yang sombong menghadang keadaan. Semoga hidup kita bahagia. Semoga hidup kita sejahtera..(Kembang Pete, Iwan Fals) 

Ahh, saya tersenyum cemburu. Manis sekali laku kalian. Huff, ingat omongan teman perempuan saya di telepon, beberapa menit lalu. ”Aduh, jangan sekarang. Gw baru bangun, rambut gw juga lagi jelek. Belum ke salon.” 

Di sebuah pertokoan saya turun. Cari ATM, lalu naik ke lantai paling atas, tempat sebuah toko buku. Beberapa pasang pemuda berkasihan saya dapati. Masih berbaju seragam, hilir-mudik. Murung raut penjaga toko berpadu bising mesin permainan yang lapar koin logam.

Minyak goreng naik sudara-sudara! Harga bawang tidak wajar. Antrean minyak tanah tak bosan disiarkan. Toko sepi, banyak yang tutup. Bahkan elevator enggan melaju. Under-consumsption, over-production, kapitalisme lagi jenuh!  

Pukul dua saya beringsut keluar dengan sebuah buku dalam genggaman, Metodologi Sejarah. Saya buka-buka. Baca selintas sambil pesan kopi di sebuah warung pinggir jalan bilangan Plaza Pangrango, Bogor.

Gerimis turun, sementara matahari masih nanar. Hujan poyan, kata orang Sunda. Hangat-hangat tahi ayam. Langit sedang bimbang, menurut saya.  

Setengah jam. Buku mulai tak menarik. Warung kopi senyap ditinggal tiga pemuda langganan. Mereka sebut mami, ibu penjual kopi. Dia terima dengan syarat: maminya bukan mami nakal.  

Merantau dari Aceh beliau. Paruh baya berkulit putih, berkacamata. Tiga anak satu suami. Jualan sampai pukul enam tiap hari. ”Takut jadi tempat macem-macem kalau buka sampe malem, dek” ujarnya sambil menyalakan sigaret yang bikin ingat ibu saya. Paras si penjual kopi mirip ibu kapitalis penjual makanan di kantin FIKOM. 

”Wah, CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) atuh,” selorohnya waktu tahu saya menunggu seorang teman lama berjenis kelamin perempuan. Mami yang menyenangkan. Dia temani saya ngobrol. Dari harga minyak sampai susahnya cari kerjaan. Tak ketingalan, cinta-menyinta. 

Ah, ayeuna mah tampang lain jaminan. Tah, tadi si Anto (salah seorang pemuda yang sebut si ibu mami). Kurang kasep naon? Eh ditinggal kawin ku kabogohna, (ah, sekarang mah muka bukan jaminan. Tuh, si Anto kurang ganteng apa? Eh, ditinggal kawin pacarnya),” yakin betul dia dengan argumennya.

Beunghar oge. Tos dibeulikeun imah ku indungna. 170 juta. Dibere sepre sagala, kabogohna (kaya juga. Sudah dibelikan rumah sama ibunya. 170 juta. Pacarnya, dikasih seprai segala),” tanpa ragu dia bantah pendapat saya.  

Anto bukan pemuda miskin yang layak ditinggalkan. Andai mami masih gadis belasan tahun, tanpa ragu dia dekati Anto. Sayang pula anak perempuannya sudah punya jodoh. “Kerja di Bali, manajer. Kemarin anak mami baru dari sana,” semangat betul dia cerita.  

Suzuki Swift hitam melenggang mulus. Melindas aspal basah tergenang curahan hujan. “Keterusan. Lu balik arah aja. Gw di samping optik seis,” negosiasi usai dan telepon ditutup. Saya kalah. Mengalah. Jalan memutar pertokoan. Menuju mobil teman saya. 

“Jangan sekarang ya. Gw mesti jemput adik gw jam setengah lima, les vokal di Purwacaraka. Lagi jerawatan juga, nggak bagus kalau difoto. Makan aja yuk, laper nih,” dia melajukan mobil ke sebuah tempat makan daerah Palayu, Bogor.

“Lu ngerokok berapa banyak sih?” parfum mobil kalah dashyat dengan aroma asap yang melekati tubuh saya. Saya salahkan dia. Menunggu bikin mulut saya tak lelah beradu dengan tembakau. 

Mobil baru. Terakhir dia antar saya ke terminal dengan Ford Escape warna coklat muda. Ada LCD TV 15 inch lengkap dengan pemutar keping DVD di dalamnya. Rikuh, belum pernah naik mobil semewah itu. Habis kata-kata dilumat rasa minder. Sekarang tidak. Masih sanggup lidah saya melawan kelu. Al-Quran kecil dengan sampul  keemasan, satu-satunya barang yang menarik perhatian saya. Diletakkan di rak paling bawah, depan tuas gigi otomatis. 

“Kayaknya gw pernah kenalan deh, al. Temennya Bolo,” setengah berbisik dia mengomentari teman SMA saya yang berada di seberang meja makan kami. ”Itu pacarnya, ya?” 

Saya ambil inisiatif, agak berteriak ”wit (Wita, Meiswita, nama teman SMA saya), temen gw nanya itu cowok lu, bukan?” teman perempuan saya protes, merasa dipermalukan. ”Ah, rese lu, nggak mau jalan sama lu lagi, gw.” 

Pria botak kulit hitam dan berbadan besar yang ada di samping Wita ajukan tawaran ”Gabung yuk”. Saya menoleh. Tak bicara apa-apa, tapi coba cari jawaban. Yang dilirik mengeleng keras, sambil tunduk tersipu. 

Ganti saya tersudut, kami tersudut. Diam, tak mau saling melihat. Sambil menoreh senyum Wita beryanya, ”cewek lu, al?”.

Saya jawab, dia menyahut, kami berdebat. ”Bukan”, saya mencoba meluruskan. ”Pembantu gw”, dia tak mau kalah. ”Lu, sopir gw. Kan lu yang dari tadi nyetir..hehe,” dia diam. Bingung cari jawaban.

Jogja, 28 Januari 2008 

Januari 30, 2008

Jasa Soeharto, Buat Indonesia dan Keluarga Saya

Berita kematian pertama kali terdengar waktu saya sedang di warnet. Penjaganya teriak-teriak. Mengulang kalimat yang sama, “pak Harto meninggal, pak Harto meninggal.” Suaranya terdengar sampai bilik komputer saya, kedua dari ujung. Entah senang atau sedih, namun lihat kelakuan macam begitu, sepertinya ini bukan berita biasa buat dia.

Headphone langsung saya pasang. Putar The Stone Roses, Love Spread (lagu yang selalu ada di flashdisk saya selain sealbum lengkap Hang Loose Baby-nya The Paps.) Telinga saya kedap. Penjaga teriak-teriak pakai Toa Masjid pun tak akan terdengar.

Apa pentingnya kematian Soeharto? Dia kan sama saja dengan manusia kebanyakan? Kenapa harus pakai berkabung tujuh hari plus pengibaran bendera setengah tiang?Cak Nun betul juga ketika diwawancarai sebuah stasiun TV swasta, dia bilang “kehidupan setiap orang sekarang di Indonesia ada hubungannya dengan Soeharto.”  

Beliau orang besar. Di masanya ekonomi begitu stabil. Beras murah, sekolahpun terjangkau. Inflasi enam ratus persen di akhir pemerintahan Orde Lama, berhasil dia tekan. Jangan dilupakan peran para ekonom Berkeley dan lintah darat internasional yang menyokong dia.

Swasembada pangan. Sampai-sampai Food and Agricultural Organization (FAO) kasih penghargaan. Beberapa pengamat politik bilang, Indonesia macan Asia Tenggara ketika itu. Betul, di zamannya pula organisasi Asean terbentuk.

Mantan Menteri Agama Tarmizi Taher ingatkan masyarakat, “Soeharto selamatkan Indonesia dari komunis.” Yusril Ihza, senada. Mengajak kita untuk tidak mengesampingkan jasa-jasa bapak pembangunan. Saya baca opini mereka di koran Sindo milik grup MNC. Beberapa persen sahamnya dipunyai anak Soeharto.

Lebih SBY. Dalam pidato saat pemakaman di Astana Giri Bangun, dia urai peran militer Soeharto. Indonesia berhasil merebut kembali Yogya dari tangan Belanda. Ada juga Operasi Pembebasan Irian Barat. Prsetasi terbesarnya tentu penumpasan gerakan komunis pasca G30S.

Siapa yang berperan besar dalam merebut kembali Yogyakarta, masih jadi kontroversi. Sejarawan Orde baru bilang itu jasa Soeharto. SBY pun begitu. Belakangan sejarah ditinjau ulang, misalnya dalam Seabad Kontroversi Sejarah yang ditulis Asvi Warman. Soeharto cuma terima perintah dari Hamengkubuwono IX saja.

Sampai sekarang masih banyak masyarakat Papua yang menganggap tanahnya belum merdeka. Organisasi Papua Merdeka (OPM), terbentuk. Soeharto sebut mereka Gerakan Pengacau Keamanan (GPK).

Sebagai tragedi politik terbesar di Indonesia, G30S masih kelabu. Versi pemerintah paling kuat karena terlanjur dalam ditanamnya. Ada banyak versi lain. Bukti-bukti baru memungkinkan sejarah ditulis ulang. Di Lubang Buaya tak pernah ada penyiksaan para Jenderal oleh Gerwani. Tarian harum bunga beriring lagu Genjer-genjer dan cap di paha Gerwani sekedar mitos yang dibuat-buat.

Ada hantu berkeliaran di Indonesia, hantu Marxisme. Orde Baru bikin mitos yang samakan Marxisme dengan hantu haus darah. Seperti orangtua takuti anak kecil yang belum tahu apa-apa.

Lepas dari siapa yang bertanggung jawab, pertanyaannya adalah: siapa yang paling diuntungkan peristiwa G30S? Dr. Subandrio dalam pledoinya bilang Soeharto lakukan kudeta merangkak. Istilah itu lalu dipakai Asvi. Soekarno jelas tidak dapat untung, apalagi PKI.

Nasution pernah memutasi Soeharto. Gara-gara melakukan perdagangan ilegal dengan Liem Swie Liong, dia diturunkan menjadi perwira non-jabatan. Dipindah ke Jakarta. Waktu itu Soeharto masih tentara ecek-ecek. Kivlan Zein bahas ini selintas, dalam bukunya Konflik dan Integrasi TNI-AD. 

Soekmawati Soekarnoputri emosi betul waktu diwawancara Trans TV. Harto dirawat 49 dokter spesialis di akhir-akhir hayatnya. Soekarno, menurut Sukma, diurus oleh seorang dokter Hewan. Dia tak akan pernah memaafkannya. Permintaan agar jasad Soekarno dikebumikan di Bogor pun ditolak Soeharto. Fatmawati, istri Soekarno yang jahit bendera pusaka, makamnya ada di Karet, Jakarta. Bu Tien bersemayam di Astana Giri Bangun. Megah betul, terpisah dari rakyat biasa.

Sukmawati agak berlebihan. Memangnya Soekarno seorang yang pantas disebut bapak Bangsa? Tan Malaka yang berjuang lebih dulu saja diperlakukan lebih parah. Ditembak di tepi Sungai Brantas. Hatta yang tersingkir, bagaimana? Ribuan pahlawan lainnya juga diperlakukan macam rakyat biasa.

Usaha Trans TV lumayan juga. Dia ambil kesempatan dari njomplangnya pemberitaan media elektronik. SCTV berlaku sama. Undang Amien Rais dan Cak Nun beberapa saat setelah kematian Soeharto diumumkan. Kepentingan ekonomi dia prioritaskan dibanding kepentingan politik.

Televisi lainnya tidak begitu. Meliput kesedihan rakyat ditinggal seorang pahlawan. Seringkali dibuat dramatis dengan wawancara orang kecil atau liputan suporter tim sepakbola dan anak sekolah yang mendoakan Harto. AnTV bikin running text dukacita yang hilir-mudik saat pertandingan piala FA antara MU dengan Totenham. Banyak juga yang bikin feature perjalana karir Soeharto. Dari anak petani bisa jadi pemimpin negara. Sungguh suatu sukses luar biasa.

Tak heran ketika karangan bunga di jalan cendana sampai satu kilometer panjangnya. Kematian ini bikin sedih banyak orang. Saya tertawa, ingat panduan investigasi korupsi yang dibuat George Junus dan diterbitkan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP). Salah satu cara merunut jejaring bisnis adalah melihat ucapan dukacita di surat kabar atau karangan bunga yang dikirim. Banyak betul koneksi usaha almarhum.

Koran lokal Jogja agak nyentrik. Dibawah asuhan seorang pintar, karakter dan perjalanan hidup Soeharto didedah. Caranya dengan menghitung tanggal, dan hari lahir sesuai dengan penaggalan Jawa. Ada juga yang menelisik sisi klenik. Mendatangi petilasan yang dikunjungi Soeharto di beberapa daerah.

Sebelum kematian Harto, berita di media massa nasional hampir seragam. Mereka pakai congor orang lain yang punya otoritas buat mengatakan apa yang dimaui. Mari-mari, maafkan kesalahan pak Harto, lupakan tuntutan hukumnya. Harto Cuma manusia yang bisa juga khilaf, namun jasanya lebih besar dibanding kesalahannya!

Saya tunggu-tunggu sekumpulan orang teriak merdeka. Kalau televisi bikin liputan dan di dalamnya ada pidato pengunduran diri Soeharto, biasanya gambar itu dimasukkan sesudahnya. Di liputan-liputan saat Soeharto masuk RSPP kemarin, gambar ini tidak masuk. Begitupun selepas dia meninggal. Gambar orang-orang teriak merdeka, diganti Soeharto salaman dengan beberapa pejabat tinggi.

Ada juga yang masukkan stock-shot Soeharto yang begitu legowo setelah lengser. Voice-over gambar pidato pengunduran diri pakai kalimat yang membentuk citra Soeharto turun karena peduli terhadap aspirasi rakyat, bukan karena dipaksa oleh rakyat. Wartawan pake jurnalisme ‘omongan’, kutip alasan Soeharto, “dengan memertimbangkan pendapat berbagai fraksi di DPR…bla..bla..bla.”

Walter Lippman, seorang wartawan politik Amerika, punya kiat propaganda sukses. Pisahkan masyarakat dengan kenyataan, itu saja. 

Buat memeringati kematian Soeharto, seorang teman ajak saya kibarkan bendera tiang penuh, merdeka. Dia orang kecil juga, sopir. Tak ada media massa yang mewawancarainya. ‘Orang-orang kecil’ korban rezim Harto juga disingkirkan dari TV.

Saya pernah ngobrol dengan keluarga Hasan Raid, tahanan politik rezim Harto. Cucunya bertanya kenapa kakek benci Soeharto? Yang jawab si nenek, “kakek tidak benci Harto, dia yang membenci kita”. “Saya tak pernah menyesal dan tidak punya dendam dengan Soeharto,” tutur pak Hasan. Beliau tinggal di sebuah rumah sederhana daerah Jakarta. Ruangan ke ruangan cuma dibatasi triplek tipis. Kaso penahan atap sudah mulai bengkok, kelelahan menahan beban.

Banyak orang yang dipaksa tak mengakui kelurganya sendiri, untuk bertahan hidup saat Orde Baru. Ada kebijakan bersih lingkungan. Pakde saya terjerat juga, “Aku nggak mau kalau disuruh pasang bendera setengah tiang. Pak RW nggak tahu penderitaan keluarga gara-gara Harto.”

“Semua tiarap, terpencar-pencar. Ada yang di Jakarta, sisanya di Jawa,” Om Sur cerita tentang kehidupan kelaurga pasca G30S. Waktu wawancara kerja, Bude, Bulik, Om, dan Ibu tak mengaku siapa bapaknya. Pakde saya lulus SMA dengan nem tertinggi di sekolahnya. Diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan potongan biaya lima puluh persen. Tak ada uang sepeserpun, bapaknya lagi meringkuk di penjara Salemba.

Kemarin, merah-putih dipasang setengah tiang di depan rumah saya. Nenek yang suruh. 

Jogja, 29 Januari 2008

Januari 28, 2008

Perempuan dalam Arus Perubahan Zaman

tn1.jpg

Judul  : Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani  
Pengarang : Dewi Linggasari  
Penerbit : Kunci Ilmu, Oktober 2007 
Tebal  : xii+252 hal

Perkawinan adalah kematian. Liwa, seorang perempuan Dani, tak bisa lagi merasakan hidupnya setelah kebebasannya ditukar puluhan ekor babi. Begitu adat Dani, mahar babi berarti perempuan yang sudah jadi istri harus tunduk pada suami.

    Liwa adalah perempuan kesekian, sebelumnya ibu tirinya, Lapina, bernasib sama. Kematian suami Lapina, Kugara, menghantar kebebasan. Liwa tak mungkin mengharap kematan Ibarak, suaminya direnggut oleh perang suku seperti pernah terjadi pada bapaknya, Kugara. Berbeda dengan Lapina, Liwa hidup di masa ketika ‘peradaban’sudah memasuki lebat hutan Wamena, Papua. Negara, seperti juga gereja, megharamkan perang suku.

    Sejak masyarakat suku Dani diperkenalkan dengan peradaban modern, kehidupan berubah total. Persentuhan dengan modernitas kentara sekali di bidang ekonomi. Masyarakat Dani dipaksa untuk turut dalam arus kapitalisme. Ekonomi subsisten mereka diguncang, alat tukar bernama uang diperkenalkan, barang-barang konsumsi baru menjadi kebutuhan yang mendarah-daging.

    Kebun tempat hasil bumi milik Liwa dipanen, dijamah ekonomi pasar. Setelah menggunakan sebagian hasilnya, Liwa harus membawanya ke pasar, menukarnya dengan barang konsumsi. Tembakau, adalah barang yang tak dihasilkan kebunnya, dan harus dibeli di pasar untuk meredam amarah Ibarak. Begitupun baju dari kain buatan pabrik, dibutuhkan anaknya yang masih Balita untuk menahan dingin hawa belantara Wamena.

    Goncangan juga terjadi dalam pembagian kerja. Sementara beban Liwa makin memberat dengan jumlah anaknya yang terus bertambah dan masuknya barang konsumsi baru dalam kehidupan, Ibarak justru sebaliknya. Dia hanya bisa diam di rumah, sesekali pergi berburu. Tak ada lagi Perang suku demi bayar darah anggota suku yang tewas dalam peperangan.

    Gayatri, seorang dokter muda menyaksikannya. Dia bergumul dengan perubahan yang sedang berjangkit dalam kehidupan suku Dani. Liwa diperkenalkannya dengan pilihan rasional sebagai jalan keluar kakunya aturan adat. Gayatri menyelamatkan Liwa dan seorang anaknya yang menurut adat Dani harus dibunuh atau dihanyutkan karena terlahir kembar.

    Meskipun bukan pemain utama, Gayatri ada dalam pertentangan budaya Dani dan budaya negara. Perang suku memang menghilang, namun digantikan perang negara dengan masyarakat yang dulu gemar berperang. Perang yang akhirnya merenggut kekasihnya. Dia menyaksikan sendiri bahwa terkadang modernitas tak lebih baik dibandingkan dengan tradisionalitas, malah bisa lebih buruk.

# # # # #

    Gesekan-gesekan ekonomi dan budaya di atas didedahkan Dewi Linggasari pada pembaca, melalui Novel Etnografinya, Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani. Sali adalah karya Etnografi kedua Dewi setelah dua tahun sebelumnya dia menggarap cerita seorang anak Asmat bernama Yowero dalam Kapak.

    Baik dalam Kapak, maupun Sali, Dewi mendedahkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat adat setelah persentuhannya dengan ekonomi pasar dan kekuasaan negara. Meski bukan titik pijak utama penceritaan, namun pengaruh ekonomi begiru kentara dalam pola hidup yang berubah tersebut.

    Dibandingkan Liwa, tampaknya pemahaman Gayatri atas masyarakat Dani lebih dekat dengan pengarang. Karenanya, bias modernitas kadang masih terasa dalam novel ini, meskipun sebagai seorang antropolog hal tersebut sebisa mungkin harus dihindari olehnya.

    Lepas dari posisi yang diambil pengarang, buku ini perlu disambut baik karena beberapa kelebihannya. Pertama, masih jarangnya persentuhan masyarakat Indonesia yang modern dengan kehidupan masyarakat adat di belantara nusantara. Selama ini, perkenalan lebih sering dilakukan melalui acara petualangan di televisi atau berita kelaparan. Novel Etnografi punya kelebihan dibanding keduanya, karena menyajikan gambaran yang lebih utuh.

    Kedua, dengan metode etnografi penulis tak hanya berkutat dengan literatur dan data-data. Dia melihatnya dengan mata-kepala sendiri, melalui pengalaman langsung dengan kenyataan yang intens. Realisme pengarang lebih bisa dipertanggungjawabkan.

    Realisme itulah yang sebetulnya harus digubah lagi. Kelak, masyarakat adat di Indonesia timur tak hanya menerima sisa sejarah dari Jawa. Mereka akan menulis sejarah mereka sendiri. Seperti Jamaica Kincaid menulis pengalaman dan pemahamannya sebagai rakyat terjajah dalam A Small Place.

Januari 27, 2008

That is…Style

dsc_0121.jpg 

Judul Buku : Wars Within Pergulatan Tempo, Majalah Berita Sejak Zaman Orde Baru

Penulis  : Janet Steele

Penerbit  : Dian Rakyat

Cetakan : Agustus 2007

Jumlah Hal : xxxiv + 302

Tulisan tangan mirip cakar ayam pada sebuah serbet kertas melintasi samudra, sampai ke sebuah laci di sudut benua lain. Kalimat yang tertulis memancing perenungan. Membawa kenangan tentang sebuah gedung di sudut pusat Pertokoan Senen, Jakarta. Pada gedung ringkih berlantai dua yang bergoyang jika ditiup angin itu, 36 orang khusyuk dalam kerjanya masing-masing. Selingan asap rokok, teriakan dan gurauan sesekali hadir di antara mereka yang kebanyakan bertelanjang dada. Kerja sebegitu meriah bisa menghasilkan apa? Majalah dengan bahasa yang bagus.

      Tak jauh dari gedung ringkih itu, sekali seminggu beberapa wartawan Tempo berkumpul. Riuh suasana pasar toh tak membuat mereka mandul gagasan. Denting peralatan makan dan hilir mudik pembeli jadi latar lahirnya tema-tema penting untuk berita edisi minggu berikutnya. Sebuah rumah makan disulap jadi tempat rapat redaksi.

      That is Indonesian Style.

That is Tempo Style

      Lahir, tumbuh, (dipaksa) mati, dan lalu hidup kembali, Tempo selalu berada dalam pertarungan. Mochtar Lubis, P.K. Ojong, dan Rosihan Anwar mungkin tak akan pernah mengira proyek yang terlalu ambisius tersebut bisa bertahan dan berkembang dengan pertentangan itu.

      B. M. Diah yang tertarik mendanai Ekpres, cikal-bakal Tempo. Pertarungan dalam tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menyebabkan Goenawan Mohamad dan Fikri Jufri dipecat dari Ekspres. Mereka diberhentikan dengan nama besar yang sudah berhasil mereka sandang. Modal awal mendirikan Tempo.

      Pontang-panting mencari pemodal baru untuk meneruskan proyek ambisius mereka, Goenawan dan Fikri bertemu dengan “wonder boy” Ciputra yang memang sudah kesengsem dengan majalah Ekspres. Jadilah sebuah perjanjian kerjasama dengan negosiasi yang menurut Ciputra melebihi sulitnya negosiasi dengan perusahaan besar Jepang.

      Di tahun keempatnya Tempo sudah bukan lagi bayi yang harus disuapi investasi Ciputra. Mereka sudah surplus sehingga perjanjian kerjasama yang baru dengan sang pemodal dimungkinkan. Mereka menjadi lebih independen dalam hal kepemilikan. Seumpama kapal, orang-orang Tempo sudah menjadi nahkoda di atas kapal sendiri, namun masih harus berhadapan dengan keganasan samudra luas. ”Tentara memiliki senjata lalu mengapa mereka harus takut pada kami?” tutur Goenawan. Fakta lainnya, seperti dikatakan Toriq Hadad, ”Kami (Tempo) hanya takut pada satu hal: kemarahan militer”.

      Toh, rasa takut menimbulkan keberanian bersiasat. Strategi internal mereka berupa kebijakan mengenai peristiwa apa yang harus diangkat dan (yang lebih penting) seperti apa kemasan yang membuatnya tak terlihat memancing militer menindak mereka. Sementara itu, lobi dilakukan sebagai strategi eksternal. Tiap-tiap orang memunyai tugas mendekati orang-orang dan berbagai lembaga yang ada di lingkar kekuasaan pemerintah. Jurus lobi terbukti ampuh menghidupkan kembali Tempo ketika dibredel pertama kali tahun 1982 karena memberitakan konflik yang terjadi dalam Pemilihan Umum.

      Dua strategi tersebut terbukti berhasil ketika Tempo memutuskan untuk memberitakan peristiwa Tanjung Priok secara mendalam. Enam paragraf kutipan dari konfrensi pers pemerintah via Benny Moerdani digunakan sebagai pembuka berita, selanjutnya baru dipaparkan peristiwa dari versi Tempo. Keberanian menyampaikan versi yang lain dari pemerintah tersebut tak lepas dari jaminan Benny Moerdani bahwa Tempo berhak memberitakan persitiwa tersebut sesuai dengan yang mereka pahami. Berkat kedekatan salah seorang wartawannya dengan Benny, Tempo mendapatkan jaminan tersebut meskipun hanya secara lisan.

      That is Tempo styles

      Lain yang terjadi sepuluh tahun kemudian. Kali ini, Tempo mengangkat masalah pembelian 39 kapal bekas militer Jerman Timur oleh pemerintah. Harga kapal dan konflik antara Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie dan Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dijadikan sudut peliputan. Akibatnya, Tempo, bersama dengan Editor—majalah yang kebanyakan wartawannya adalah ”pelarian” dari Tempo—dan DeTik yang memberitakan hal yang sama dibredel oleh pemerintah.

      Ada banyak versi mengenai penyebab pembredelan tersebut. Salah satunya adalah kedekatan Pemimpin Redaksi Tempo Fikri Jufri dengan Benny Moerdani. Kedekatan itu membuat gerah Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang posisinya di lingkar kekuasaan pemerintah mulai menguat. Tempo menjadi korban gayanya sendiri.

      Benny terbukti tak bisa berbuat banyak. Justru Tempo yang jadi bulan-bulanan hukum. Mereka menggugat Departemen Penerangan ke pengadilan, dan menang. Namun, Depertemen Penerangan yang mengajukan banding ke Mahkamah Agung berhasil membalikkan keadaan.

      Sebenarnya, ketika itu Tempo bisa kembali terbit jika mau melakukan kompromi dengan pemerintah. Tawaran pertama datang dari Prabowo melalui Hashim Djojohadikusumo, saudara lelakinya. Dua syarat diajukan: pergantian dewan redaksi dengan nama-nama baru yang mereka ajukan dan menjadi pihak pertama yang membeli saham Tempo jika ingin dijual. Tempo menolak.

      Tawaran kedua datang dari Soeharto lewat pengusaha kawakan Bob Hasan. Ciputra turut bermain di dalamnya. Dengan memekerjakan banyak awak Tempo, Gatra terbit sebagai pengganti. Cara ini agak mirip dengan yang dilakukan oleh rezim Marcos untuk menyiasati pers di Filipina. Bedanya, Marcos menutup berbagai media massa, menangkapi wartawan, dan meluncurkan media baru dengan nama yang sama, namun dengan pengurus yang berbeda. Soeharto tidak menangkap Goenawan, dia hanya melakukannya kepada beberapa wartawan saja. Kali ini pemerintah setengah berhasil.

      Setengahnya lagi, kegagalan pemerintah ‘menjinakkan’ Goenawan, alih-alih membawanya menuju perjuangan lain. Goenawan mendekati Andreas Harsono, seorang muda dengan integritas tinggi di bidang jurnalisme untuk membentuk bersama sebuah lembaga politik yang bernama Institut Studi Arus Informasi (ISAI).

      Dengan dukungan dana dari US Agency for International Development (USAID), ISAI melakukan gerak bawah tanahnya. Layanan berita yang ”tidak biasa”, disebarkan melalui jaringan internet dengan kerahasiaan tingkat tinggi. Mereka juga membuat sebuah terbitan oposisi yang di kemudian hari disangka dan diklaim sebagai terbitan milik Partai Rakyat Demokratik (PRD). Pemerintah juga menyangka pekerjaan itu dilakukan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

      That is ISAI Style.

Sejarah Goenawan

      Awalnya, Steele bermaksud untuk membuat sebuah buku mengenai Orde Baru yang disajikan dari perspektif berita. Selanjutnya, lahirlah Buku ini sebagai hasil dari lima belas bulan penelitiannya mengenai Tempo.

      Steele adalah pengajar kelas Jurnalisme Sastrawi yang diselenggarakan Pantau. Keahliannya bisa dirasakan lewat deskripsi-deskripsi yang enak dibaca dari buku ini. Dia menggambarkan sosok para narasumbernya, menangkap dan menyajikan gambaran apik mengenai seluk-beluk lima belas bulan penelitiannya.

      Satu yang paling kentara dalam buku ini adalah mengenai penekanan yang besar terhadap peran Goenawan dalam pasang-surutnya Tempo. Beliau memang simbol dan salah seorang perintis, tapi bukan satu-satunya orang yang berjasa mengembangkan Tempo.

      Dua bab awal buku ini adalah kisah pencarian Goenawan yang akhirnya menemukan teman-teman seperjuanggannya. Bahkan prolog dan pengantar diawali kutipan pernyataan Goenawan. Mungkin ini adalah sebentuk penghargaan Steele kepada seseorang yang kalimatnya dia catat dalam serbet kertas. ”Tentara memiliki senjata, lalu mengapa mereka harus takut pada kami?” ucapan tersebut menggugah Steele merenungkan pengorbanan wartawan Indonesia untuk sesuatu yang tak lagi dipedulikan orang Amerika.

      Begitupun dengan penceritaan pasca pembredelan kedua di tahun 1994. Steele lebih memilih menceritakan sepak terjang Goenawan yang mendirikan dan mengembangkan ISAI. Bagaimana dengan wartawan Tempo lainnya? Bagaimana dengan Gatra yang kebanyakan wartawannya pernah menjadi bagian dari Tempo? Penceritaan tentang mereka yang kelewat sedikit dalam buku ini, membuat sejarah Tempo menjadi sejarah seorang Goenawan Mohamad

      Mungkin, That is Janet Steele style.

Januari 27, 2008

Cintaku, Cinta Konser

Jakarta memang neraka, saya benar-benar merasakannya kali ini. Hari itu, minggu, lazimnya orang-orang ibukota pelesir ke Puncak Bogor atau Bandung sana, dan saya yang besar di Bogor lalu kuliah di Bandung bisa melengang mulus di jalanan Jakarta tanpa terganggu oleh kemacetan yang sudah rutin disini ketika hari kerja. Kenyataannya tidak begitu.

 

Mobil meninggalkan daerah Pancoran menyusuri jalan tidak seberapa lebar, menuju ke daerah mana saya lupa. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul tiga dan matahari masih galak seperti jam 12 tidak pernah beranjak sedetikpun. Saya membuka kaus tipis yang apek karena dicumbui keringat.

 

Bertelanjang dada saya mengiringi Candil bersenandung, “kapan ku punya pacar, kapan ku punya pacar,” dan drakk. Benjolan aspal membuat bergetar pemutar compact disc Pioneer abu-abu 12 cd yang dipasang di bawah laci mobil sebelah kiri. Lagu berhenti diganti nada timur tengah mengalun tanda pesan singkat masuk ke Siemens saya.

 

Haduh knp dbliiin?yawda nanti gw gantiin ya say..jgn marah ya say.”

 

gw g btuh uang lu. Jrang2 gw maen k Jkt,qta kan udh lma g ktemu.Tpi,klw mang g bsa g ush gnti duitny,gw g smiskin itu,non..hehe” tombol send ditekan.

 

Faktanya, saya belum punya tiket. Taktik saja, supaya teman saya itu mau menemani saya nonton acara musik Jazz yang rutin diselenggarakan setahun sekali oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saya penggila reggae dan tak begitu menikmati Jazz. Tapi, saya penikmat musik,\ apapun genrenya. Di Indonesia pagelaran Jazz yang tiketnya dihargai puluhan ribu cuma ada sekali setahun, Jazz Goes to Campus. Itu yang membuat saya mau jauh-jauh ke Jakarta cuma untuk nonton sebuah konser musik.

 

Langit sudah ramah. Tidak panas tidak pula hujan. Mobil bergerak lagi, tanpa nyala air conditioner kali ini, karena jarum penanda bensin sudah sampai di titik E. Empty.

 

Pokoknya ente harus lakuin itu. Ini kesempatan jarang. Ke Bogor pun ane anter. Kalau ente sampai ga lakuin, ganti nih duit bensin,” gurau teman saya mengancam sehabis mengeluarkan dua lembar ratus ribuan di sebuah pom bensin yang letaknya dekat dengan bilangan Ps. Minggu. Ya, saya ke Jakarta menumpang. Betul-betul baik kawan saya itu. Sudah ditumpangi, mau mengantar ke Bogor pula.

 

Al, gw udh di jln nech. Janji yah gw plgin jgn mlm2.awas loh..

 

nyawa gw taruhannya,” balas saya

 

Ba’da Maghrib. Untuk menemukan tempat parkir teman teman saya sampai harus memutar mobil tiga kali, sekali keluar UI lalu masuk lagi. Bahu jalan sudah penuh dan kami menemukan sebuah tempat lowong di boulevard, empat ratus meter dari gerbang, sekitar satu kilometer dari Fakultas Ekonomi.

 

Al beli ponstan”, “Al beli aqua jg.cptn udah skt gi9i bech…oia permen jg soalnya gw takut minum obat sndrian.he2 maap ia kebnykn ia he2

 

Saya masuk ke alfamart, beli sebungkus Djarum Super, sebotol aqua, dan sebotol nuGrentea. “Ada ponstan, mbak?” saya harap-harap cemas. Nihil. Lucu juga ada alfamart di dalam kampus, di Unpad ini tidak (mungkin juga belum) terjadi. Komersialisasi Kampus belum separah Jakarta dimana setiap hal diukur dengan lembar-lembar uang. Bagus, berarti pedagang-pedagang kecil itu masih bisa tetap hidup.

 

Seorang wanita dengan kaus oblong dan celana jeans berdiri di atas meja yang terletak di tengah-tengah area ticket box. “Tiket sold out,” ulangnya beberapa kali. Gimana ya, kacau ini, ketahuan sudah bohong saya. Tidak ada tiket dan ponstan, saya harus ngomong apa nanti.

 

Sekitar sejam menunggu sambil duduk-duduk dan foto-foto, akhirnya kesepakatan dicapai. Tiket Cuma ada satu. Teman lelaki saya menggunakan tiket bekas, saya pakai tiket asli, dan teman saya yang perempuan sudah punya cap di lengannya hasil dari menempelkan cap yang masih basah dari adik kelasnya. Strategi berhasil.

 

Kami bertiga berpisah di dalam. Teman lelaki saya langsung menuju main stage bersama dua orang lainnya, sementara saya dan teman perempuan saya berdua saja. Jitu.

 

JGTC dua tahun lalu tidak seramai kali ini. Sebuah neon box besar bertuliskan Three Decades of Jazz Goes to Campus; Celebration of Inspiration terpampang di dekat bunderan FE yang ramai oleh pengunjung yang duduk-duduk sambil mengobrol. Di tengah bunderan, lampu kelap-kelip diuntai seperti membuat rangka payung, mengelilingi sebuah tiang tempat lampu warna-warni berbentuk huruf J-G-T-C dipasang vertikal. Pawang hujan tampaknya sukses karena hujan tak menambah semarak acara hingga penampil terakhir menyelesaikan lagunya di pangung.

 

Laper ni, cari makan dulu ya,” perut teman saya merajuk rupanya. Sepuluh meter dari bunderan, stand makanan berjejer. “Jangan pancake, nggak kenyang. Gw laper banget nih,” silahkan saja nona, malam ini semua mau Anda saya turuti.

 

Gw gak makan, kopi aja,” ujar saya sambil memesan segelas nesface panas yang dijual di sebelah stand tempat teman saya memesan. “Gua mau milo kaleng,” pinta teman saya sambil memesan makanan di stand samping. Saya keluarkan selembar dua puluh ribuan dari saku kanan dan membayarnya. Lima puluh ribuan terakhir saya ditepisnya, dia yang membayar untuk dua porsi makanan yang terlalu mahal dihargai Rp.26 ribu.

 

Umur berapa lu mau nikah?” teman saya membuka pembicaraan sambil menyuap sendok kesekian melewati bibir merah jambunya. Saya keget namun mencoba tersenyum. Seperti berkah yang datangnya terlalu cepat, berkah yang jadi bencana.

 

Hmmm, nggak tau. Gw gak suka menargetkan hidup. Selama gw senang hari ini, hari besok gak dipikirin. Cukup. Gw lebih senang begini, hidup bebas dari target,” sebisa mungkin saya cari kalimat yang pas sambil pikiran saya menerka apa yang ada di balik pertanyaan tersebut. Suara penampil dari main stage terdengar, “lagu berikutnya tentang seorang pria yang setia dengan janjinya”.

 

Aduh, dia tanya soal hubungan. Tanya saya sejarah pers Indonesia, kita bisa semalaman membicarakannya, tapi jangan soal hubungan karena saya belum punya jawabannya. Saya tak berminat membahasnya denganmu, nona. Dan kamu, pasti tak berminat membahas beberapa kesalahan Pramoedya mengurai sejarah Tirto Adhisoerjo dalam tetraloginya. Yah, kita memang berbeda. Kupikir, aku yang selalu mencoba menyesuaikan diri denganmu meski ketakutan itu terus menetak. Kenapa kau gerus keindahan malam ini dengan pertanyaan macam itu.

 

Sudahlah, bung, jangan dibiarkan terus gelisah itu berkecamuk, nikmati saja malam ini. Huff, untungnya dia tak tahu probbing dan tak memberondong saya dengan dengan pertanyaan lanjutan.

 

Setengah sebelas malam, mobil menyusuri aspal basah tol Jagorawi yang terus didera hujan. Setengah jam berikutnya mobil menyusuri jalan-jalan kecil di sebuah kompleks perumahan elite Bogor. Saya masih hapal jalan tikus disini meski sudah setahun lebih tak melewatinya.

 

Kompleks elite nih. Orang-orang kaya Bogor tinggal disini. Cuma ada tiga kompleks perumahan elit di tengah kota Bogor: ini, daerah Dadali, sama Taman Kencana. Ki Gendeng Pamungkas tinggal di daerah sini,” tukas saya pada teman lelaki yang sedang memegang kemudi.

 

Apaan sih lu. Biasa aja kali, lu selalu gitu,al. Pehitungan sama gw,” teman perempuan saya yang duduk di jok belakang langsung emosi dibilang tinggal di kompleks perumahan elite. Dia memukul-mukul tubuh dan kepala saya yang duduk persis di depannya.

 

Buat nelpon Dewi bisa, ko gw nggak? Sakit hati gw,” saya tak bisa melihat ekspresinya ketika bicara seperti itu. Saya tak tahu teman perempuan saya itu serius atau tidak.

 

Saya ingin mejawabnya ketika kita berpisah di pagar rumahmu, tapi tak tahu harus dengan kalimat seperti apa. Pun bapak-bapak itu, yang nongkrong-nongkrong di depan pagar rumahmu, kehadirannya betul-betul menganggu saya.

 

“Gimana nyong?” teman lelaki saya rupanya sudah tak sabar mendengar kalimat yang saya katakan waktu mengantar teman perempuan saya masuk ke rumah.

 

“Dia nanya gw balik ke Bogor ngak Minggu depan, pengen ngajak jalan lagi. Gw bilang ‘iya’. Ketemu lagi minggu depan. Masih memesona dia,” jawab saya seadanya.

 

U make a dark nite so wonderful, thx..hehe. Jgn mrah yak, tdi gw boong udh pnya tiket spaya lu mw dtg,” saya kirim pesan singkat sebagai tanda terima kasih kepada perempuan itu.

 

Saya khusyuk di depan komputer. Main Football Manager 2008 sambil mendengarkan mp3 dari Winamp. Cinta Sudah Lewat-nya Kahitna dapat bagian bersenandung beberapa saat setelah Kencan Pertama dan Jikalau-nya Naif. Dia dan janji itu masih membayang meski pertemuan itu sudah lewat seminggu. Saya tak menepati janji yang diucap seminggu lalu.

 

Berikan aku senyuman satu malam saja, jangan kau tawarkan sebuah hubungan, nona,” saya ingin jujur padanya. Kalimat itu ingin saya bisikkan ke telinganya yang berpahat giwang bundar biru muda malam itu. Andai, andai saja malam itu kau mencecar terus, kukeluarkan kalimat pamungkas itu.

Januari 27, 2008

Dari Ladang Derita, Dia Petik Buah Manis Kebahagiaan

Sendal pijat dari kayu dengan tonjolan-tonjolan seperti barisan kapsul sebesar ibu jari, melayang. Berhenti dan jatuh di lantai setelah beradu dengan tembok kamar. Sedetik lalu melayang persis di samping kaki saya yang reflek melompat. Putaran tangannya, tangan ibu saya, masih hebat seperti ketika menyabet berbagai piala kejuaraan badminton, tenis meja, dan voli saat perayaan HUT RI beberapa tahun lalu. Ketepatannya belum berkurang, karena dia masih senang berlatih. Hanya saja, siang itu, saya bukan lawan yang ingin dikalahkannya dengan smash-smash tajam. Saya hanya anak nakal yang membuat kesal hati ibunya. Tubuh kecil saya bergetar setelah bunyi dakk akibat benturan sendal dengan tembok, ibu melengang pergi ke luar kamar. Meninggalkan sendal yang luput.

Lemparan itu menghilang ketika saya beranjak besar. Mengakrabi dunia coba-coba anak SMP. Bolos, merokok, alkohol Ibu tak pernah tahu kecuali hal yang pertama. “Aal, biar papa yang ngurus, mama udah nggak sanggup lagi,” intonasinya sama seperti tahun-tahun yang lalu. Kelopak mata saya basah, sesal tertunda menitik, air mata yang tak pernah ke luar saat lemparan barang luput atau tamparan keras memerahkan pipi saya. Malam itu saya memilih dilempar atau ditampar saja, jangan keluar kalimat itu dari mulutmu, ibu.

Dua puluh satu tahun lalu. Seorang perempuan dengan janin berusia sembilan bulan, jatuh dari becak. Kepalanya membentur bemper belakang truk. Beberapa jam kemudian sejarah tercatat: dari empat kali kelahiran, kali ini yang paling lama dan menyulitkan.

Tak pernah terpikir di otaknya, betapa sulit melahirkan dan membesarkan anak. Sepertinya lebih sulit dari tahun-tahun perjuangan beliau saat ditinggal ibu yang meninggal dan bapak yang dibui akibat tragedi politik paling kejam di Indonesia. Dia hidup bersama ibu tiri. Sampai dua puluh tahun kemudian bapaknya dibebaskan dengan tanda ET di Kartu Tanda Penduduk.

Pagi sebelum berangkat sekolah, nasi harus sudah masak. Sebuah sepeda tua dikayuh, menyusuri jalanan Jogja menuju sekolah tanpa sepeserpun uang saku. Kadang roda berhenti di sebuah kuburan Cina. Perempuan itu tertidur. Seharian kemarin pekerjaan begitu berat. Mengaduk puluhan loyang kue, mencuci baju sendiri, membeli baju lalu menjualnya lagi.

Sejak lama ibu berjualan pakaian. Karir yang sudah dirintisnya sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Umur dua belas, Surabaya dia datangi bersama adik lelaki yang umurnya masih enam tahun. Bawa sekarung pakaian dari Ps. Beringharjo. Tak ada alamat lengkap, hanya petunjuk lisan menempel di ingatan. 

Orang-orang Ps. Beringharjo, seperti juga pedagang Mester dan Tanah Abang, sudah pada tahu. Perempuan itu masih jualan baju sampai sekarang, untuk biaya sekolah empat anaknya. Dua kuliah di Jogja, seorang di Bandung, si bungsu mau masuk SMP.

Jadi penjaga karcis PJKA pernah juga dia jalani. Tak bisa dia jadi pegawai kantoran, cuma tamat SMA dengan angka merah berjejer di ijazah dan rapor. Ya, dia senang tidur di kuburan cina saat jam pelajaran. Pun ada kebijakan bersih lingkungan. Dia dipaksa tak mengakui  siapa bapaknya.

Kesehatannya jauh menurun, dibandingkan ketika muda dulu. Ibu masih keras kepala jika diminta jangan bekerja terlalu berat. Semangatnya tak pernah mengkerut meski uban satu-satu memenuhi rambut. Dan kerut di wajahnya semakin nampak, aah saya ingat janji membelikannya Oil of Ulan jika dapat gaji pertama. Kerut-kerut yang nampak indah jika semua anaknya berkumpul saat liburan.

Sekarang, dia tak pernah melempar sendal pada adik saya. Tak ada kesal di dada, kenapa ibu lakunya berbeda.

Sesekali saja saya lihat air mata menitik membasahi pipi dan mukenanya di dua pertiga malam. Kepalanya menyandar di tembok, suara lirih, dan terbata. Di doa ibu kudengar ada namaku disebut.

Bogor, 21 Desember 2007